I. Pergeseran Paradigma dari Perdamaian ke Pertahanan.
Selama beberapa dekade setelah Perang Dingin, Eropa menikmati "dividen perdamaian," di mana pengeluaran militer dikurangi demi investasi sosial. Namun, invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022 menjadi wake-up call yang brutal. Saat ini, perbincangan tidak lagi berpusat pada cara merangkul Rusia, melainkan pada cara bertahan melawannya.
A. Kebangkitan Belanja Militer.
Hampir setiap negara Eropa, dari Jerman hingga Polandia, kini bergegas mencapai target NATO yaitu mengalokasikan 2% dari PDB untuk pertahanan.
Jerman - Die Zeitenwende:
Anselir Olaf Scholz secara historis mengumumkan dana khusus senilai €100 miliar untuk memodernisasi Bundeswehr (Angkatan Bersenjata Jerman). Ini menandai berakhirnya penolakan Jerman pasca-Perang Dunia II untuk memiliki peran militer yang menonjol.
Negara-negara Baltik dan Polandia:
Negara-negara yang berbatasan langsung dengan Rusia dan Belarusia telah meningkatkan pengeluaran mereka hingga melampaui 2% dari PDB, memimpin dalam pembangunan pertahanan perbatasan, termasuk benteng, penghalang anti-tank, dan sistem pertahanan udara canggih.
B. Ancaman Drone dan Serangan (Abu-abu).
Yang menjadi viral dan memicu ketakutan baru adalah laporan mengenai serangan di "zona abu-abu." Serangan drone Ukraina terhadap kapal tanker Rusia di Laut Hitam dan laporan mengenai drone Rusia yang secara berkala melanggar wilayah udara negara-negara anggota NATO, seperti Rumania atau Polandia, menunjukkan bahwa konflik tidak lagi terbatas pada garis depan Ukraina. Setiap insiden seperti ini berpotensi memicu Pasal 5 Perjanjian NATO—bahwa serangan terhadap satu anggota dianggap serangan terhadap semua—yang menjadi sumber kecemasan besar di Brussels.
II. Kekacauan Energi dan Kehancuran Perekonomian
Dampak paling langsung dari ketegangan ini dirasakan melalui guncangan pasar energi. Eropa, yang sebelumnya sangat bergantung pada gas murah Rusia, kini harus menghadapi kenyataan pahit krisis energi yang kronis.
A. Kepergian Gas Rusia dan Kenaikan Harga
Setelah pemotongan pipa Nord Stream (baik yang disengaja maupun tidak), UE terpaksa mencari sumber energi baru. Upaya ini telah memicu lonjakan harga yang signifikan:
Inflasi dan Biaya Hidup: Kenaikan harga gas dan listrik telah mendorong inflasi ke tingkat tertinggi dalam beberapa dekade di negara-negara seperti Inggris dan Jerman, memicu krisis biaya hidup yang meluas.
Transisi ke LNG: Eropa kini berinvestasi besar-besaran dalam infrastruktur Gas Alam Cair (LNG), membangun terminal baru untuk menerima pasokan dari AS, Qatar, dan Afrika. Transisi ini mahal dan menimbulkan perdebatan lingkungan yang intens.
B. Industri Eropa yang Terancam
Harga energi yang tinggi telah melukai parah sektor industri berat Eropa. Banyak perusahaan besar di sektor kimia, baja, dan pupuk terpaksa memangkas produksi atau bahkan pindah ke kawasan dengan biaya energi lebih rendah, yang menimbulkan kekhawatiran tentang deindustrialisasi di jantung ekonomi Eropa.
III. Polarisasi Politik dan Masa Depan Uni Eropa
Ketegangan ini juga merembet ke arena politik internal.
A. Perpecahan Bantuan Ukraina
Meskipun sebagian besar negara Eropa bersatu dalam mendukung Kyiv, muncul suara-suara yang menentang, terutama dari partai-partai populis sayap kanan yang tengah menguat.
Hungaria dan Slovakia:
Beberapa pemimpin negara menentang sanksi lebih lanjut terhadap Rusia dan bahkan mengancam untuk memveto paket bantuan UE untuk Ukraina, menciptakan friksi yang signifikan di dalam blok tersebut.
Perdebatan Internal:
Di negara-negara anggota kunci, perdebatan tentang berapa lama dan seberapa besar dana yang harus dialokasikan untuk Ukraina kini menjadi isu utama dalam setiap pemilihan umum.
B. Solidaritas NATO dan Ketergantungan AS
Kekhawatiran tentang kemungkinan kepemimpinan AS di masa depan yang mungkin kurang berkomitmen pada NATO telah memaksa Eropa untuk mempertimbangkan otonomi pertahanan yang lebih besar.
(Eropa harus belajar untuk berdiri di atas kaki sendiri. Kita tidak bisa lagi sepenuhnya bergantung pada Washington untuk jaminan keamanan kita.) – Kutipan populer dari seorang analis kebijakan di Brussels.
Kesimpulan: Menghadapi Normalitas Baru yang Penuh Ketidakpastian
Secara keseluruhan, artikel ini menjadi viral karena mencerminkan kekhawatiran eksistensial kolektif Eropa. Benua ini berada pada titik balik, di mana tatanan pasca-Perang Dingin telah runtuh.
Eropa kini berada di tengah perlombaan melawan waktu: untuk membangun kembali pertahanannya, menstabilkan pasar energinya, dan mempertahankan persatuan politiknya di bawah tekanan geopolitik yang luar biasa. Inilah "normalitas baru" di Eropa: sebuah era yang ditandai oleh ketidakpastian, pengeluaran militer yang besar, dan bayangan konflik yang terus membayangi.
#beritaterkini
GlobalNews088...

